curhat…
Malam ini satu hal yang ingin sekali aku lakukan semakin ingin kulakukan.
<Ji, cdmu masih di aq, hehehe baru ketemu bu, I’ll bring it back when I met u>
Ya, aku ingin punya waktu dimana aku benar-benar melepaskan semua hal yang menyesakkan
dadaku.
Menghilang, mungkin menjalani hidup orang lain tepatnya.
Rutinitas yang kulakukan, kebiasaan yang menjadi habitualku.
Sejujurnya aku merasa bosan, beberapa tahun terakhir aku terus mencoba mencari tahu diriku,
mengenali dengan baik.
Hingga sekarang aku tahu betul apa yang kumau.
Tetap saja aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Yupz, the Holiday…
<Jude law, he’s really cool, family man, good father,so sexy eh Grant maksudnya>
Satu tempat yang jauh, sangat jauh, sampai tak ada satu orang pun yang kukenal.
Aku memulai dari awal. Mengenali lingkunganku, mencoba menikmati hari-hari baruku.
Tanpa sms yang membuatku tersenyum atau kecewa. Sekedar berjalan di pagi hari dan mendapat
dahiku dengan tetesan air dari atas pohon. Atau berlari sejauh mungkin. Hingga untuk pulang
pun aku harus
mencari kendaraan yang mengantarku pulang. Menyenangkan.
Nikmatnya sudah terbayangkan, sedikit terasa bahkan.
Kalaupun aku terlalu sering memberikan hadiah kecil untuk diriku sendiri.
Aku pikir tidak ada yang salah.
Aku memang pemalas, suka menunda hal yang tidak kusuka.
Menghindari satu keputusan atau tersenyum untuk orang yang paling menyakitiku.
Tapi aku merasa kuat. Aku sanggup menjalaninya, melewati detik demi detik hingga sekarang.
Mencoba mengubah air mataku dengan semangat atau menguatkan jiwa yang rapuh dengan rapuhku
juga.
Aku tahu tidak ada yang mudah dalam hidup ini.
Tapi aku harus membuatnya terasa mudah.
Rahasia Tuhan, hanya waktu yang akan menjawabnya.
Yang kuinginkan yang terindah, meski tidak akan pernah ada yang sempurna selain Yang Maha
Kuasa.
Yang kuinginkan aku bisa mensyukuri apa yang telah kulakukan.
Mengatakan aku beruntung, aku hebat…
Touching Story
Arti CINTA Sejati
Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai
sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat
yang muncul ketika saya bersender di bahunya yang
bidang.
Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu,sampai
sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus
mengakui, bahwa saya mulai merasa lelah dengan semua
ini, alasan-2 saya mencintainya pada waktu dulu, telah
berubah menjadi sesuatu yang melelahkan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2
sensitif dan berperasaan halus, saya merindukan
saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang
menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang
dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan
ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang
romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan
harapan saya tentang cinta.
Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan
keputusan saya kepadanya, yaitu saya menginginkan
perceraian.
“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.
“Saya lelah, terlalu banyak alasan yang ada di dunia
ini”, jawab saya.
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan
rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya
semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak
dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya
bisa harapkan darinya?
Dan akhirnya dia bertanya, ” Apa yang dapat saya
lakukan untuk Merubah pikiranmu?”
Seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lain
sangatlah sulit dan itu benar, saya pikir, saya mulai
kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah
pribadinya.
Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan
pelan, “Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat
menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan
merubah pikiran saya. Seandainya katakanlah saya
menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung
dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu,
kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk
saya?”
Dia berkata, ” Saya akan memberikan jawabannya besok.”
Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya
melihat selembar kertas dengan coret-2an tangannya
dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang
bertuliskan?
Istriku Sayang,
‘Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi
ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat
pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan
untuk membacanya kembali.
“Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu
mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di
depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya
supaya saya bisa menolong untuk memperbaiki
programnya.”
“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu
keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya
supaya bisa masuk mendobrak rumah , membukakan pintu
untukmu.”
“Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu
nyasar di tempat-2 baru yang kamu kunjungi, saya harus
memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. ”
“Kamu selalu pegal-2 pada waktu “teman baikmu”
datang setiap bulannya, saya harus memberikan tangan
saya untuk memijat kakimu yang pegal.”
“Kamu senang diam didalam rumah, dan saya kuatir
kamu akan jadi “aneh”. Saya harus memberikan mulut
saya untuk menceritakan lelucon-2 dan cerita-2 untuk
menyembuhkan kebosananmu. ”
“Kamu selalu menatap komputermu dan itu tidak baik
untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya
sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat
menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.”
“Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai,
menikmati sinar matahari dan pasir yang
indah?menceritakan warna-2 bunga kepadamu yang
bersinar seperti wajah cantikmu ?”
Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang
mencintaimu lebih dari saya mencintaimu ? Saya tidak
akan mengambil bunga itu lalu mati ?”
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
tintanya menjadi kabur ? dan saya membaca kembali?
“Dan sekarang sayangku ? kamu telah selesai membaca
jawaban saya, jika kamu puas dengan semua jawaban ini,
tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang
berdiri disana dengan susu segar dan roti kesukaanmu?”
Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang
penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti.
Oh, saya percaya, tidak ada orang yang pernah
mencintai saya seperti yang dia lakukan dan mengetahui
saya harus melupakan “bunga” itu sendiri ?
Itulah hidup, atau boleh dikatakan, cinta, ketika
seseorang dikelilingi dengan cinta, kemudian perasaan
itu mulai berangsur-angsur hilang dan ketika kita
mengabaikan cinta sejati yang berada diantara
kedamaian dan kesepian ?
Cinta menunjukkan berbagai macam bentuknya, bahkan
dalam bentuk yang sangat kecil dan dangkal, atau
bahkan tidak punya bentuk, bisa juga dalam bentuk yang
tidak ingin kita ketahui ? Bunga, saat-saat yang
romantis hanyalah bentuk awal dari hubungan.
Diatas semua ini, pilar cinta sejati berdiri?dan
itulah kehidupan kita ?
Sumber : TRUE STORY
Tega banget si, masak istrinya nyuruh suaminya ngambil bunga yg bisa membahayakan nyawa suaminya? Kalo suaminya mati apa ngga malah lebih nangis bombay. Emang si ce mana yg ga suka bunga. tapi beli di toko aja kenapa? Hehehe…Emang tuh bunga mo dipake buat apaan?
Mending bunga yg laen, kekekekekek…